{"id":2402,"date":"2021-01-18T20:40:34","date_gmt":"2021-01-18T13:40:34","guid":{"rendered":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/?p=2402"},"modified":"2021-01-18T20:40:36","modified_gmt":"2021-01-18T13:40:36","slug":"kesalahan-umum-berbahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/kesalahan-umum-berbahasa-indonesia\/","title":{"rendered":"Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p>Di tingkat perguruan tinggi, keterampilan berbahasa Indonesia ditekankan pada ragam ilmiah, terutama untuk kepentingan akademik, seperti dalam penulisan karya tulis ilmiah dan presentasi. Kesalahan umum berbahasa Indonesia tersebut dipaparkan sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<p>1. <strong>Hiperkorek<\/strong><br>Hiperkorek merupakan serapan dari bahasa Inggris, yakni <em>hypercorrect<\/em>. <em>Hyper <\/em>artinya berlebihan dan <em>correct <\/em>artinya memperbaiki. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hiperkorek merupakan kesalahan umum berbahasa karena membetulkan\/memperbaiki bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.<br>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p>2. <strong>Kesalahan Penggunaan Kata Tugas<\/strong><br>Kata tugas merupakan kata yang secara gramatikal tidak dapat digabungkan dengan imbuhan dan tidak mengandung makna leksikal, misalnya <em>daripada, kepada, dalam<\/em>.<br>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Hiperkorek<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk Benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>tehnik<\/td><td>Teknik<\/td><\/tr><tr><td>teoritis<\/td><td>Teoretis<\/td><\/tr><tr><td>respon<\/td><td>Respons<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Kesalahan Penggunaan Kata Tugas<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk Benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Hasil <em>daripada <\/em>penelitian ini dapat didesiminasikan secara menyeluruh.<\/td><td>Hasil penelitian ini dapat didesiminasikan secara menyeluruh.<\/td><\/tr><tr><td>Proposal ini ditujukan <em>kepada <\/em>PT Telkom.<\/td><td>Proposal ini ditujukan pada PT Telkom.<\/td><\/tr><tr><td><em>Dalam <\/em>artikel ini membahas permasalahan sistem jaringan.<\/td><td>Artikel ini membahas permasalahan sistem jaringan.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>3. <strong>Pleonasme<\/strong><br>Pleonasme merupakan istilah serapan dari bahasa Inggris, yakni <em>pleonasm<\/em>, yang artinya berlebihan, bertele-tele, ataupun mubazir dalam penggunaan bahasa. Dengan demikian, pleonasme merupakan kesalahan umum berbahasa akibat menggunakan kata\/frasa\/kalimat yang tidak diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p>4. <strong>Kontaminasi<\/strong><br>Kontaminasi diserap dari bahasa Inggris, <em>contamination<\/em>, artinya pencemaran. Jadi, dalam hal ini kntaminasi berarti pencemaran dalam bahasa. Dengan demikian, kontaminasi merupakan kesalahan umum berbahasa akibat dari menggabungkan beberapa bentuk (kata atau frasa) yang menimbulkan bentuk lain yang tidak lazim.<br>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p>5. <strong>Perombakan Bentuk Pasif<\/strong><br>Bahasa karya tulis ilmiah tentunya mengutamakan bentuk pasif. Dalam pembentukan kalimat pasif, imbuhan \/di-\/ hanya dipakai untuk orang ke-3, yaitu dia, ia, beliau, mereka.<br>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Dia mengolah data di laboratorium. (kalimat aktif) Kalimat (a) jika dipasifkan seharusnya menjadi \u201cData <em>diolah <\/em>(oleh) dia di laboratorium.\u201d<\/li><li>Saya mengolah data di laboratorium. (kalimat aktif) Karena imbuhan di- hanya dipakai untuk orang ke-3, sementara itu pada kalimat (b) subjek diisi oleh orang ke-1, maka bentuk pasifnya \u201cData saya <em>olah <\/em>di laboratorium\u201d.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Di bawah ini contoh kesalahan perombakan bentuk pasif.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Pleonasme<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk Benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>naik ke atas<\/td><td>naik atau ke atas<\/td><\/tr><tr><td>saling tarik-menarik<\/td><td>saling menarik atau tarik-menarik<\/td><\/tr><tr><td>data-data<\/td><td>data (kata data sudah menyatakan bentuk jamak)<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Kontaminasi<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>berulang kali<\/td><td>berulang-ulang atau berkali-kali<\/td><\/tr><tr><td>berbagai macam<\/td><td>berbagai-bagai atau bermacam-macam<\/td><\/tr><tr><td>kadang kala<\/td><td>kadang-kadang atau ada kala (nya)<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Bentuk Pasif yang Salah<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk Pasif yang Benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Observasi dilakukan oleh saya di laboratorium.<\/td><td>Observasi saya lakukan di laboratorium.<\/td><\/tr><tr><td>Instalasi sistem jaringan itu <em>disewa <\/em>(oleh) kami.<\/td><td>Instalasi sistem jaringan itu kami <em>sewa<\/em>.<\/td><\/tr><tr><td>BTS itu dia <em>beli<\/em>.<\/td><td>BTS itu <em>dibeli <\/em>(oleh) dia.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>6. <strong>Pengaruh Bahasa Asing<\/strong><br>Kosakata bahasa Indonesia banyak menyerap dari bahasa asing sehingga seringkali<\/p>\n\n\n\n<p>penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari terpengaruh oleh bahasa asing. Contoh:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Pengaruh Bahasa Asing<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk Benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Penelitian ini dilakukan <em>di mana <\/em>tim menyusun laporan.<\/td><td>Penelitian ini dilakukan di <em>tempat <\/em>tim menyusun laporan.<\/td><\/tr><tr><td>Ponsel <em>yang mana <\/em>berspesifikasi canggih itu masih pada tahap uji coba.<\/td><td>Ponsel <em>yang <\/em>berspesifikasi canggih itu masih pada tahap uji coba.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>7. <strong>Pengaruh Bahasa Daerah<\/strong><br>Banyaknya suku di Indonesia, seperti Jawa dan Sunda, mengakibatkan penggunaan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh bahasa daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>contoh :<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><strong>Pengaruh Bahasa Daerah<\/strong><\/td><td><strong>Bentuk Benar<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>keuji<\/td><td>teruji<\/td><\/tr><tr><td>dilaporin<\/td><td>dilaporkan<\/td><\/tr><tr><td>kebuka<\/td><td>terbuka<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sumber<\/strong> : <\/p>\n\n\n\n<p>Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud. 2016. <em>KBBI V 0.2.1 Beta (21)<\/em>. Jakarta: Kemdikbud.<\/p>\n\n\n\n<p>Depdiknas. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Bandung: Pustaka Setia.<\/p>\n\n\n\n<p>Puspandari, Dyas. 2009. <em>Modul Bahasa Indonesia<\/em>. Bandung: Tidak diterbitkan.<\/p>\n\n\n\n<p><br><\/p>\n<div id=\"lucky-1800070992\" class=\"lucky-after-content lucky-entity-placement\"><script async src=\"\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5605825534849002\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display:block;\" data-ad-client=\"ca-pub-5605825534849002\" \ndata-ad-slot=\"5317815257\" \ndata-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\n<script> \n(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); \n<\/script>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tingkat perguruan tinggi, keterampilan berbahasa Indonesia ditekankan pada ragam ilmiah, terutama untuk kepentingan akademik, seperti dalam penulisan karya tulis ilmiah dan presentasi. Kesalahan umum berbahasa Indonesia tersebut dipaparkan sebagai berikut. 1. HiperkorekHiperkorek merupakan serapan dari bahasa Inggris, yakni hypercorrect. Hyper artinya berlebihan dan correct artinya memperbaiki. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hiperkorek merupakan kesalahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[345],"tags":[],"class_list":["post-2402","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bindo-ltdv"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2402"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2407,"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402\/revisions\/2407"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2402"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2402"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/luckytruedev.com\/learning\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2402"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}